Semburat
Reviewed by kirdianis
on
February 02, 2016
Rating: 5
Senyap
By kirdianis
Read
Bunga-bunga tulip merah, ungu, kuning, biru menghiasi di kanan dan kiri jalanan. Tulip-tulip, kanopi-kanopi kecil, air mancur, dan bunga-bunga yang menghiasi tiang-tiang bercat putih di depan sana. Aku terus berjalan menuju tiang-tiang menjulang itu. Derap langkah mengiringi, melintasi jalanan yang tersusun oleh batu-batu putih mungil.
Angin berhembus sepoi menyejukkan. Membuat sekeliling terasa damai. Gurat senyum menyimpul kecil menghiasi wajah, merasakan kedamaian yang dihadirkan oleh sekitar. Tak lama semilir sepoi itu semakin mengencang dan membawa awan hitam di atas taman bunga tersebut. Hawa dingin merambati sekujur tubuh. Langit berubah menjadi gelap. Bunga-bunga menunduk suram dan perlahan layu. Tulip yang tadinya berwarna perlahan menjadi kelabu, layu, menyatu dengan tanah dan puuff.. hilang begitu saja. Akar-akar raksasa bermunculan dari dalam tanah, bergerak meliuk-liuk menyeramkan seakan ingin menggapai kaki dan menyeretku masuk ke dalam. Waktu membuatnya semakin liar, seperti ingin memakan dan menelan hidup-hidup. Seketika jantungku tidak karuan.
Aku berlari sekencang-kencangnya.
Menembus tanah lapang yang kini hitam kelabu. Langit, tanah dan bahkan angin pun kelabu. Sementara akar-akar itu bergerak meliuk-liuk semakin buas.
Aku terus berlari tanpa sempat menengok ke belakang. Masuk ke dalam hutan dengan pohon-pohon tak berdaun. Aku berhenti berlari. Akar-akar itu pun berhenti mengejar. Aku tertunduk. Jantungku masih berdegup kencang. Napasku masih tersengal. Mataku masih merah. Pandanganku masih kabur. Kudengar suara napas dan degup jantung yang bersaut-sautan. Sisa-sisa ketakutan masih terasa, membayangkan akar-akar yang meliuk-liuk liar seperti ingin sekali menarikku hingga entah ke mana.
Aku terdiam, tertunduk lelah, bersandar di salah satu pohon di tepian jalan setapak tengah hutan. Sepi mulai terasa, gelap mulai mencekam.
Meremang bulu kuduk di sekujur tubuh. Angin berhembus dingin. Aku berdiri dari peristirahatan dan mulai berjalan menembus hutan. Hutan yang senyap.
Hari menjadi malam dan masih kelabu. Ku tengadahkan kepala ke atas mencari cahaya bulan. Awan kelabu masih menyelimuti langit malam. Menghalangi cahaya bulan untuk menyapa mahluk-mahluk malam yang masih terjaga.
Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang samar-samar dalam penglihatan, tak ada yang mengetahui ujungnya akan berakhir di mana atau justru hanya akan membawaku berputar-putar dalam kegelapan.
Badan yang mulai lelah dan mata yang mulai terkatup-katup akan kantuk membuatku terseok-seok dalam langkah yang sempoyongan.
Aku terus berjalan.
Tiba-tiba terlintas sebuah kata "pandangan". Ya. Aku harus memperluas pandangan.
Aku berhenti sekali lagi. Kali ini diam dan senyap. Ku katupkan kelopak mataku dan menyatu dengan senyap. Mendengarkan dengan seksama suara-suara yang memberikan pertanda. Lalu aku mulai berjalan. Tak ku ikuti lagi jalan setapak. Kali ini ku ikuti suara itu dan terus berjalan menujunya. Burung-burung hantu yang hinggap di pepohonan memandangiku dengan mata yang melotot lebar. Mata-mata merah di balik kegelapan mengawasiku tanpa berkedip dengan seringai-seringai yang menakutkan. Aku terus berjalan. Menuju suara.
Derap langkah semakin memelan dan suara tersebut semakin mengencang. Hawa dingin perlahan menghilang. Aku menghentikan langkahku. Aku berhenti dan membuka mataku.
Aku terdiam. Mengedip-ngedipkan sekali lagi mataku, mengumpulkan kesadaran untuk melihat apa yang ada di depan.
................................................................
Aku terbelalak.
Angin berhembus sepoi menyejukkan. Membuat sekeliling terasa damai. Gurat senyum menyimpul kecil menghiasi wajah, merasakan kedamaian yang dihadirkan oleh sekitar. Tak lama semilir sepoi itu semakin mengencang dan membawa awan hitam di atas taman bunga tersebut. Hawa dingin merambati sekujur tubuh. Langit berubah menjadi gelap. Bunga-bunga menunduk suram dan perlahan layu. Tulip yang tadinya berwarna perlahan menjadi kelabu, layu, menyatu dengan tanah dan puuff.. hilang begitu saja. Akar-akar raksasa bermunculan dari dalam tanah, bergerak meliuk-liuk menyeramkan seakan ingin menggapai kaki dan menyeretku masuk ke dalam. Waktu membuatnya semakin liar, seperti ingin memakan dan menelan hidup-hidup. Seketika jantungku tidak karuan.
Aku berlari sekencang-kencangnya.
Menembus tanah lapang yang kini hitam kelabu. Langit, tanah dan bahkan angin pun kelabu. Sementara akar-akar itu bergerak meliuk-liuk semakin buas.
Aku terus berlari tanpa sempat menengok ke belakang. Masuk ke dalam hutan dengan pohon-pohon tak berdaun. Aku berhenti berlari. Akar-akar itu pun berhenti mengejar. Aku tertunduk. Jantungku masih berdegup kencang. Napasku masih tersengal. Mataku masih merah. Pandanganku masih kabur. Kudengar suara napas dan degup jantung yang bersaut-sautan. Sisa-sisa ketakutan masih terasa, membayangkan akar-akar yang meliuk-liuk liar seperti ingin sekali menarikku hingga entah ke mana.
Aku terdiam, tertunduk lelah, bersandar di salah satu pohon di tepian jalan setapak tengah hutan. Sepi mulai terasa, gelap mulai mencekam.
Meremang bulu kuduk di sekujur tubuh. Angin berhembus dingin. Aku berdiri dari peristirahatan dan mulai berjalan menembus hutan. Hutan yang senyap.
Hari menjadi malam dan masih kelabu. Ku tengadahkan kepala ke atas mencari cahaya bulan. Awan kelabu masih menyelimuti langit malam. Menghalangi cahaya bulan untuk menyapa mahluk-mahluk malam yang masih terjaga.
Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang samar-samar dalam penglihatan, tak ada yang mengetahui ujungnya akan berakhir di mana atau justru hanya akan membawaku berputar-putar dalam kegelapan.
Badan yang mulai lelah dan mata yang mulai terkatup-katup akan kantuk membuatku terseok-seok dalam langkah yang sempoyongan.
Aku terus berjalan.
Tiba-tiba terlintas sebuah kata "pandangan". Ya. Aku harus memperluas pandangan.
Aku berhenti sekali lagi. Kali ini diam dan senyap. Ku katupkan kelopak mataku dan menyatu dengan senyap. Mendengarkan dengan seksama suara-suara yang memberikan pertanda. Lalu aku mulai berjalan. Tak ku ikuti lagi jalan setapak. Kali ini ku ikuti suara itu dan terus berjalan menujunya. Burung-burung hantu yang hinggap di pepohonan memandangiku dengan mata yang melotot lebar. Mata-mata merah di balik kegelapan mengawasiku tanpa berkedip dengan seringai-seringai yang menakutkan. Aku terus berjalan. Menuju suara.
Derap langkah semakin memelan dan suara tersebut semakin mengencang. Hawa dingin perlahan menghilang. Aku menghentikan langkahku. Aku berhenti dan membuka mataku.
Aku terdiam. Mengedip-ngedipkan sekali lagi mataku, mengumpulkan kesadaran untuk melihat apa yang ada di depan.
................................................................
Aku terbelalak.
Senyap
Reviewed by kirdianis
on
December 16, 2015
Rating: 5
Pertunjukan "100% Yogyakarta"
By kirdianis
Read
Minggu lalu, pertunjukan teater yang bertajuk 100% Yogyakarta diadakan pada tanggal 31 Oktober dan 1 November 2015 di Concert Hall Taman Budaya, Yogyakarta. Kebetulan saya memilih menonton pada tanggal 31 Oktober nya. Malam itu Concert Hall TBY penuh dengan penonon yang antusias ingin menikmati pertunjukan yang akan disuguhkan, tidak hanya warga Jogja tapi juga ada om tante mbak mas bule di sana. Dan happy :D karena saya dapat tempat duduk pas di tengah, di depan panggung, hihi yeah..
Jadi.. 100% Yogyakarta merupakan rangkaian acara German Season (Jerman Fest). 100% Yogyakarta adalah pertunjukan tentang Yogyakarta dan berbagai pandangan yang disampaikan oleh 100 orang warganya. Pertunjukan ini hasil kolaborasi antara Teater Garasi dan Rimini Protokoll (teater asal Berlin).
Sebelum open gate, kami, penonton, oleh panitia diberi sebuah buku saku yang isinya tentang pertunjukkan yang nanti akan dipertunjukkan beserta profil 100 orang yang ada di atas panggung.
Untuk menjelaskan bagaimana mereka mencari 100 orang tersebut, ini saya kutip dari buku saku tersebut :
"Dengan cara menyebar ke sekeliling kota selama lebih 5 bulan, 100% Yogyakarta dimulai dengan memilih seorang anggota, yang kemudian harus mengajak serta anggota lainnya, yang selanjutnya akan mengajak serta anggota lainnya dan begitu seterusnya - seluruhnya berdasarkan kriteria umur, jenis kelamin, tipe penduduk, geografi, dan cerminan etnis.."
Jadi dalam 100 orang tersebut tercakup variasi umur, pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain. Dari umur kurang dari setahun hingga umur 90 tahun. Dari warga lokal Jogja sampai warga luar Jogja dan warga asing yang tinggal di Jogja. Masing-masing mereka memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai Yogyakarta dan masalah-masalah lainnya. Dari situlah pertunjukan ini menyampaikan potret-potret statistik dari berbagai pandangan yang dimiliki mereka yang dikemas dengan menarik sekali. Ceritanya dari 100 orang tersebut, 1 orang mewakili 1% dari warga Yogyakarta.
Pertunjukan ini menarik sekali, pake banget malah kalau kataku. XD
Wow setelah membaca buku kecil dari panitia tersebut, ternyata pertunjukkan bertajuk 100% ini sudah dipertunjukkan di berbagai negara. World tour dari 100%, awalnya tahun 2008 dipertunjukkan di Berlin, Jerman; kemudian ke negara-negara lain seperti Austria, Yunani, Norway, Great Britain, Denmark, Swis, Irlandia, Korea Selatan, USA, Belanda, dan yang lainnya, dan masih sampai sekarang. Dan ternyata tahun 2015 ini Indonesia kedapatan jatah tersebut dan dipertunjukkan di Yogyakarta ^^. Hihi. Setelah ini mereka juga akan mengadakan pertunjukan lagi 2016 dan 2017 di Great Britain, Australia, Hong Kong dan Taiwan.
Lanjut ke pertunjukan malam itu hehe
Awal pertunjukkan dimulai dengan perkenalan dari masing-masing orang tersebut. Lalu dilanjutkan dengan main show yang saya suka sekali ^^
Salah satu dari 100 orang tersebut. Namanya Chandra Wijaya/Chenny, masuk Jogja sejak 1996 sebab mendapat info bahwa penerimaan Jogja terhadap kaum waria sangat bagus, ia membandingkan dengan sulitnya waria mencari kontrakan di kota-kota lain, suka membaca buku yang berisi tentang kehidupan sosial. Pengalaman paling berkesan di Jogja adalah pernah diundang oleh suatu lembaga kebudayaan asing untuk memainkan keahliannya.
"Media tidak memberikan pendidikan yang baik tentang waria, mereka selalu menampilkan waria seperti badut. Itu kan yang kita lihat selama ini di televisi"
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Seeing Chenny, feel like I want to know more about her story. About her life as trans woman and the social responses to her. How she deal with it. How about her view regarding that.. Because it's not easy and there are a lot of stories when I look her face, her calm face that told me that she has been dealt with many things in her life during the time (maybe till now). Yang saya tahu dia punya hati yang sangat luas dari pembawaannya, pasti dia sudah banyak berdamai dengan banyak hal dalam hidupnya (from my perspective when I see her).
Lusia Regina Seraf Boas Gaharu, 6 tahun. Suka matematika dan bahasa Inggris di sekolahnya. Ingin jadi guru matematika cita-citanya. Setiap hari ia harus minum ARV (obat untuk menghadapi HIV) 12 jam sekali.
"HIV itu bikin pintar. HIV itu virus yang menyerang tubuh manusia"
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Selama pertunjukkan dek Seraf ini happy sekali. Lovely ^^
Marjono Tri Wiyono, 85 tahun, veteran, pejuang 45. Dulu ia berlatih perang di Gamping, kemudian dikirim ke Ambarawa untuk memperkuat barisan pejuang di sana, selesai perang beliau kembali ke Jogja. Kini beliau hidup tenang, merawat kebun dan kolamnya. Sebulan sekali beliau dengan sepeda tuanya menuju kantor pos untuk mengambil dana pensiunnya.
"Sekarang Jogja sudah lebih baik ketimbang dulu. Pembangunannya sudah merata, pembangunannya sudah baik sekarang."
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Suhadi, 75 tahun, juru parkir. Di usia yang sudah renta ini beliau masih bekerja sebagai juru parkir. Beliau masih berpegang teguh pada kepercayaan yang diturunkan nenek moyangnya. Salah satunya adalah kepasrahan pada Gusti yang Maha Kuasa. Hidupnya yang penuh cobaan dijalaninya dengan sabar. Ketika tubuhnya yang renta berkali-kali sakit, istrinyalah yang menggantikan pekerjaannya. Kini 4 anaknya sudah pada mentas dan mampu mendapatkan penghasilan sendiri. He proud of them.
"Sekarang jamannya sudah bubrah. Sebelum 1965 orang-orang dulu masih baik. Walaupun gak mampu tapi masih ada naluri. Sekarang gak ada sudah luweh-luweh."
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Di sampingnya tersebut adalah Ibu Endang Budi Lestari, istri bapak Suhadi ini.
"Kalau saya sedih saya cuma duduk di depan benteng Vredeburg. Saya sering duduk di sana, nanti kalau sudah bisa menangis saya pulang." (kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Beberapa orang yang saya highlight dalam perkenalan pemain yang dikemas dengan menarik. Sebenarnya masih banyak profil penampil-penampil dari berbagai kalangan.
Jadi.. 100% Yogyakarta merupakan rangkaian acara German Season (Jerman Fest). 100% Yogyakarta adalah pertunjukan tentang Yogyakarta dan berbagai pandangan yang disampaikan oleh 100 orang warganya. Pertunjukan ini hasil kolaborasi antara Teater Garasi dan Rimini Protokoll (teater asal Berlin).
Sebelum open gate, kami, penonton, oleh panitia diberi sebuah buku saku yang isinya tentang pertunjukkan yang nanti akan dipertunjukkan beserta profil 100 orang yang ada di atas panggung.
Untuk menjelaskan bagaimana mereka mencari 100 orang tersebut, ini saya kutip dari buku saku tersebut :
"Dengan cara menyebar ke sekeliling kota selama lebih 5 bulan, 100% Yogyakarta dimulai dengan memilih seorang anggota, yang kemudian harus mengajak serta anggota lainnya, yang selanjutnya akan mengajak serta anggota lainnya dan begitu seterusnya - seluruhnya berdasarkan kriteria umur, jenis kelamin, tipe penduduk, geografi, dan cerminan etnis.."
Jadi dalam 100 orang tersebut tercakup variasi umur, pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain. Dari umur kurang dari setahun hingga umur 90 tahun. Dari warga lokal Jogja sampai warga luar Jogja dan warga asing yang tinggal di Jogja. Masing-masing mereka memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai Yogyakarta dan masalah-masalah lainnya. Dari situlah pertunjukan ini menyampaikan potret-potret statistik dari berbagai pandangan yang dimiliki mereka yang dikemas dengan menarik sekali. Ceritanya dari 100 orang tersebut, 1 orang mewakili 1% dari warga Yogyakarta.
Pertunjukan ini menarik sekali, pake banget malah kalau kataku. XD
Wow setelah membaca buku kecil dari panitia tersebut, ternyata pertunjukkan bertajuk 100% ini sudah dipertunjukkan di berbagai negara. World tour dari 100%, awalnya tahun 2008 dipertunjukkan di Berlin, Jerman; kemudian ke negara-negara lain seperti Austria, Yunani, Norway, Great Britain, Denmark, Swis, Irlandia, Korea Selatan, USA, Belanda, dan yang lainnya, dan masih sampai sekarang. Dan ternyata tahun 2015 ini Indonesia kedapatan jatah tersebut dan dipertunjukkan di Yogyakarta ^^. Hihi. Setelah ini mereka juga akan mengadakan pertunjukan lagi 2016 dan 2017 di Great Britain, Australia, Hong Kong dan Taiwan.
Lanjut ke pertunjukan malam itu hehe
Awal pertunjukkan dimulai dengan perkenalan dari masing-masing orang tersebut. Lalu dilanjutkan dengan main show yang saya suka sekali ^^
Salah satu dari 100 orang tersebut. Namanya Chandra Wijaya/Chenny, masuk Jogja sejak 1996 sebab mendapat info bahwa penerimaan Jogja terhadap kaum waria sangat bagus, ia membandingkan dengan sulitnya waria mencari kontrakan di kota-kota lain, suka membaca buku yang berisi tentang kehidupan sosial. Pengalaman paling berkesan di Jogja adalah pernah diundang oleh suatu lembaga kebudayaan asing untuk memainkan keahliannya.
"Media tidak memberikan pendidikan yang baik tentang waria, mereka selalu menampilkan waria seperti badut. Itu kan yang kita lihat selama ini di televisi"
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Seeing Chenny, feel like I want to know more about her story. About her life as trans woman and the social responses to her. How she deal with it. How about her view regarding that.. Because it's not easy and there are a lot of stories when I look her face, her calm face that told me that she has been dealt with many things in her life during the time (maybe till now). Yang saya tahu dia punya hati yang sangat luas dari pembawaannya, pasti dia sudah banyak berdamai dengan banyak hal dalam hidupnya (from my perspective when I see her).
Lusia Regina Seraf Boas Gaharu, 6 tahun. Suka matematika dan bahasa Inggris di sekolahnya. Ingin jadi guru matematika cita-citanya. Setiap hari ia harus minum ARV (obat untuk menghadapi HIV) 12 jam sekali.
"HIV itu bikin pintar. HIV itu virus yang menyerang tubuh manusia"
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Selama pertunjukkan dek Seraf ini happy sekali. Lovely ^^
Marjono Tri Wiyono, 85 tahun, veteran, pejuang 45. Dulu ia berlatih perang di Gamping, kemudian dikirim ke Ambarawa untuk memperkuat barisan pejuang di sana, selesai perang beliau kembali ke Jogja. Kini beliau hidup tenang, merawat kebun dan kolamnya. Sebulan sekali beliau dengan sepeda tuanya menuju kantor pos untuk mengambil dana pensiunnya.
"Sekarang Jogja sudah lebih baik ketimbang dulu. Pembangunannya sudah merata, pembangunannya sudah baik sekarang."
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Suhadi, 75 tahun, juru parkir. Di usia yang sudah renta ini beliau masih bekerja sebagai juru parkir. Beliau masih berpegang teguh pada kepercayaan yang diturunkan nenek moyangnya. Salah satunya adalah kepasrahan pada Gusti yang Maha Kuasa. Hidupnya yang penuh cobaan dijalaninya dengan sabar. Ketika tubuhnya yang renta berkali-kali sakit, istrinyalah yang menggantikan pekerjaannya. Kini 4 anaknya sudah pada mentas dan mampu mendapatkan penghasilan sendiri. He proud of them.
"Sekarang jamannya sudah bubrah. Sebelum 1965 orang-orang dulu masih baik. Walaupun gak mampu tapi masih ada naluri. Sekarang gak ada sudah luweh-luweh."
(kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Di sampingnya tersebut adalah Ibu Endang Budi Lestari, istri bapak Suhadi ini.
"Kalau saya sedih saya cuma duduk di depan benteng Vredeburg. Saya sering duduk di sana, nanti kalau sudah bisa menangis saya pulang." (kutipan ringkas dari profil di buku saku)
Beberapa orang yang saya highlight dalam perkenalan pemain yang dikemas dengan menarik. Sebenarnya masih banyak profil penampil-penampil dari berbagai kalangan.
Untuk main show nya mereka akan bermain dengan statistik. Jangan bayangkan statistik yang membosankan, pertunjukan ini menyuguhkan statistik yang menyenangkan dan menarik untuk dinikmati :)
Pertunjukan "100% Yogyakarta"
Reviewed by kirdianis
on
November 08, 2015
Rating: 5
Reviewed by kirdianis
on
November 08, 2015
Rating: 5
Drawing : Midnight Reading
Reviewed by kirdianis
on
November 02, 2015
Rating: 5
Reviewed by kirdianis
on
November 02, 2015
Rating: 5
Drawing : Talking to A Little Whale
Reviewed by kirdianis
on
October 31, 2015
Rating: 5
Reviewed by kirdianis
on
October 31, 2015
Rating: 5
30 Days Drawing Challenge - Day 13 : Fairytale
Reviewed by kirdianis
on
October 29, 2015
Rating: 5
Reviewed by kirdianis
on
October 29, 2015
Rating: 5
Drawing : Floral Mandala
Reviewed by kirdianis
on
October 28, 2015
Rating: 5
Reviewed by kirdianis
on
October 28, 2015
Rating: 5
Drawing : Full Page Mandala
Reviewed by kirdianis
on
October 27, 2015
Rating: 5
Reviewed by kirdianis
on
October 27, 2015
Rating: 5
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Atma
Pagi ini air langit mengguyur lembut. Pemandangan nampak seolah dilingkupi tirai putih, gloomy, namun tidak mencekam. Justru ada ...








