Rasa Syukur

Jika untuk bisa bersyukur kita mengambil dari pendekatan "membandingkan nasib". Membandingkan nasib/kondisi kita dengan orang lain yang menurut kita tidak seberuntung kita/tidak lebih baik dari kita, 


boleh coba diam sejenak lalu cek kembali ego kita ya. Apakah pendekatan tersebut cukup bijak? 

Karena rasa syukur itu tidak mengandung unsur membandingkan dan menilai nasib/kondisi orang lain terhadap kondisi kita. 


Sering kita dengar kalimat seperti ini, 

"Kita seharusnya lebih bersyukur karena masih banyak yang lain yang tidak seberuntung kita."


Entah mengapa dulu waktu kecil aku merasa tidak pernah bisa sepakat dengan syukur dari pendekatan ini terlepas dari siapapun yang mengatakannya, namun juga karena belum bisa mengurai jawaban dari ketidaksepakatan itu saat itu, sehingga tidak mengiyakan dan juga tidak menolak pandangan tersebut. Pendekatan tersebut ditampung sembari mencari tahu jawaban yang sesungguhnya dari perjalanan. Saat itu aku menyadari bahwa si bocah kecil ini sedang diberi misi lagi oleh Tuhan untuk menemukan jawabannya. 


***


Rasa yang muncul saat mendengar kalimat tersebut adalah seakan-akan kita kok jadi "sok tahu" terhadap nasib/kondisi orang lain dan berhak menilai beruntung atau tidaknya orang lain, sedang kita tidak tahu apa yang dialami, dirasakan, dipahami orang lain akan nasib/kondisinya tersebut. Kita menilai lebih beruntung tidaknya atau baik tidaknya dibanding diri kita hanya dari apa yang kita tangkap dari sisi indrawi kita; apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan sebagainya; namun kita tidak mempertimbangkan bahwa ada variabel lain, apa yang sedang terjadi dalam sisi jiwa/hati seseorang akan kondisinya. Kita tidak pernah tahu sebenar-benarnya yang sedang berproses dalam dimensi jiwa/hati orang lain.


Pertanyaan yang muncul: memang orang yang beruntung itu yang seperti apa? diukur dari apa? apakah kita berhak menilai kondisi orang lain dari sudut pandang kita pribadi? jangan-jangan kita hanyalah sedang menduga-duga bahwa orang lain lebih menderita dibanding kita? 


Kalaupun memang orang lain tidak seberuntung kita, rasanya kurang tepat juga jika ketidakberuntungan orang lain menjadi bagian dari alasan kebersyukuran kita.


***

Pendekatan tersebut memang yang paling mudah untuk dibayangkan/diukur untuk memicu rasa syukur, karena berada pada dimensi fisik atau materi, lapisan terluar yang mudah untuk ditangkap. Dimensi fisik atau materi dalam artian hal-hal yang berada di luar diri. 


Pada hakikatnya segala sesuatu yang bersifat fisik itu tidak kekal, hanya sementara, dan bisa berubah. Jika rasa syukur muncul dari pendekatan terhadap sesuatu yang bersumber dari dimensi fisik/hal-hal dari luar diri, boleh jadi jika sesuatu itu berubah, rasa syukur pun ikut berubah. Sedangkan rasa syukur yang sejati itu tidak terkait dan terpengaruh akan apa yang terjadi di luar diri. 


Jika kita berbicara mengenai rasa syukur sejati, rasa itu bukanlah muncul atau bersumber dari luar diri namun dari apa yang ada di dalam diri, karena yang namanya "rasa" adalah bagian dari "jiwa", sehingga dimensinya bukan lagi fisik/materi/badaniah/permukaan namun dimensi jiwa yang ada dalam diri. 


Untuk bisa memahami dan menyelami dimensi jiwa itu memang tidak mudah karena membutuhkan yang namanya kepekaan rasa dan keterbukaan untuk bisa melihat ke dalam diri yang bersifat immaterial/tidak berwujud. Disitulah kita akan bertemu dengan rasa syukur yang sebenarnya. 

Rasa syukur yang datangnya dari cinta dan Tuhan.

Kita merasa bersyukur oleh karena nasib/kondisi diri dan apapun yang diberikan Tuhan dalam hidup kita ini adalah bentuk cinta Tuhan kepada kita, sehingga bukan lagi bersyukur dari membandingkan dengan nasib/kondisi orang lain. Kondisi orang lain pun juga bentuk cinta Tuhan kepada orang lain tersebut. Dan cinta Tuhan ke semua mahluk-Nya itu sama besarnya tidak bisa dibanding-bandingkan, karena  

Tuhan Maha Adil. 


Tidak akan ada lagi bersyukur dengan membandingkan kondisi kita dengan orang lain dan menilai dengan praduga yang belum tentu benarnya, yang seolah-olah tahu namun tidak tahu, yang seolah-olah berbalut empati namun sebenarnya bisa jadi justru bentuk keakuan. 


Yang ada hanyalah rasa syukur karena Tuhan.


Kecintaan kita pada Tuhan.



Rasa Syukur

Jika untuk bisa bersyukur kita mengambil dari pendekatan "membandingkan nasib". Membandingkan nasib/kondisi kita dengan orang lain...

Powered by Blogger.